Faiz Khairul Nizam (8 Tahun) Ditemukan Meninggal Dunia, Pencarian Berakhir Duka


Surakarta Jateng || Suaraindonesia.co Anak berusia 8 tahun dari Dukuh Tasgunting, Desa Nangsri, Kecamatan Kebakkramat, Faiz Khairul Nizam, telah ditemukan tidak bernyawa pada hari Selasa (31/3/2026) sekitar pukul 12.17 WIB di kawasan Siphon Malangsari. Lokasi penemuan berjarak sekitar 3,1 km dari tempat terakhir korban tercatat muncul (point last seen).

 

Menurut Tri Puji S, Koordinator Basarnas Surakarta, setelah ditemukan, korban langsung dievakuasi oleh tim SAR gabungan pada pukul 12.25 WIB dan diangkut ke RSUD Kabupaten Karanganyar untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Seiring dengan ditemukannya korban, operasi SAR yang telah berjalan resmi ditutup dan seluruh personel kembali ke masing-masing satuan kerja.

 

Hilangnya Faiz dimulai pada Minggu (29/3/2026) sekitar pukul 02.00 WIB, ketika neneknya menemukan cucunya tidak ada di dalam rumah dan pintu rumah dalam keadaan terbuka. Informasi dari saksi serta rekaman CCTV menunjukkan bahwa korban terlihat berada di perempatan desa sekitar pukul 02.30 WIB. Saat itu, dia terlihat bermain di area terbuka sebelum berjalan ke arah timur menuju sungai yang berjarak sekitar 280 meter dari pos organisasi warga.

 

Awalnya, pencarian dilakukan secara mandiri oleh masyarakat setempat namun tidak menghasilkan hasil apapun. Sehubungan dengan itu, operasi SAR gabungan resmi dibuka pada hari Senin (30/3/2026) dengan fokus penyisiran dilakukan di aliran irigasi Dam Colo. Tim membagi personel ke dalam beberapa Unit Pencarian dan Penyelamatan (SRU) untuk melakukan penyisiran di saluran air, lahan persawahan, serta berbagai titik siphon sebagai area penyaringan air.

 

Selama proses pencarian berlangsung, warga sekitar juga melakukan upaya nonteknis melalui tradisi lokal bernama "buk-buk teng" pada malam hari Senin (30/3/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 100 warga ini dilakukan dengan cara berkeliling kampung sambil memukul berbagai peralatan rumah tangga seperti piring, gelas, dan wajan untuk menghasilkan irama bunyi tertentu.

 

Selain membawa obor, peserta juga menyebut nama korban sepanjang rute yang dilalui. Tradisi ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang dipercaya dapat membantu dalam menemukan orang yang hilang. Muslih (43), Ketua RT wilayah tersebut, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud doa bersama dan harapan masyarakat. "Kita bersama-sama berdoa sambil mengelilingi kampung dan memanggil nama korban, sebagai salah satu cara yang kami lakukan agar dia segera dapat ditemukan," ujarnya.



 Red ( Rudi)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama